8 posts tagged “hs”
aku mencintaimu, Jika.
tapi kau berpaling dan menoreh luka
dan kau melempariku realita.
tentu saja,
getaran ini masih terasa saat kuraba.
segenap rasa masih tereka saat kupejam mata.
ah, sudahilah saja.
masih ada jutaan mimpi menanti
di tiap titik yang kuhinggapi.
maka lepaskanlah aku pergi
melompat, berlari, terbang tinggi
dan di ujung sana nanti,
di negeri Lala aku menepi
Jiwa ini akan kupatri.
Terdiamkah kamu?
Membisu dalam visualisasi bayang-bayang ungu
Ke mana candamu yang kau yakini bisa menghangatkan aku yang dingin dan kelu?
Di mana rayumu yang dulu kau harap bisa melumerkan aku yang membeku?
Terpakukah kamu?
Tertancap dalam halusinasi sinar-sinar rancu
...
I miss you.
July 31, 2009
1:34 am
Dear D**,
Hrz ku akui, D**. Kau punya gaya puisi yg ku suka. Itulah knp pembicaraan qt bisa sangaaat nyambung. Qt punya sedikitny dunia gelap dlm satu daerah arsiran yg sama. Itulah knp pembicaraan qt bisa saling mengena. Qt punya satu rasa yg sama. Itulah knp aku bisa cinta.
Hrz ku akui, tiap kali membaca ulang puisimu, kembali ku terhanyut dlm sesak cintamu. Cinta qt. Di mana mentari telah kembali ke peraduannya, dan qt pun saling melebur dlm tangis-tawa bersama. Indah, bukan? Cantik, memang. Tentu saja tidak ada rasa cinta yg tdk cantik. Rasa ini cantik, sungguh cantik. Namun mengapa tercabik-cabik?
Hrz ku akui, aku melebur dlm rasa yg kau ciptakan. Aku melebur dlm kisah yg qt indahkan. Kisah cinta, tentunya. Di mana seorang Adam yg telah menunggu tiga belas hingga empat puluh dua akhirnya menyangka telah bertemu dengan Hawa berangka 208.826. Di dlm sebuah taman Eden tempat di mn semua resah-gelisah menyatu. Di mn semua rasa-gembira mengharu. Kamu setuju?
Hrz ku akui, kini aku merindumu. Aku
merindu cinta qt. Aku merindu pertikaian qt. Aku merindu tangisku-tangismu, percakapan larut malam
qt. Aku merindu gurauan qt. Aku merindu rayuan gombalmu. Aku merindumu.
Hrz qt akui, apa yg qt dapatkan dlm cerita yg qt karang. Beribu maaf yg kau ucapkan, sayang. Beribu kecewa yg kudapatkan, sayang. Berjuta tangis kekalahan, sayang. Karena qt kalah. Telak oleh sang ego yg melesat membawaku pergi darimu. Sang ego yg menulikanku dari jerit keputus-asaanmu. Sang ego yg menyembunyikanku dari kenyataan sujud-sembahmu, di mana kau mengisak-mengais seluruh cintaku. Sang ego yg membunuh seluruh perasaanku. Maaf, sayang.
Ini bkn taman Eden qt. Aku bukan Hawa-mu, dan kamu bukan Adam-ku. Qt tersesat. Tersesat oleh fana dan maya yg hingga kini pun masih membingungkan kepalaku :D ... Jika aku beranjak pergi dari sini, jangan ikuti aku, sayang. Pergilah dalam langkahmu. Kisah qt telah berakhir dalam egoku. Maaf, sayang.
NB : Setidaknya ingatlah ini; aku pernah mencintaimu. Dlm setulus cinta yg pernah kumiliki, kaulah yg terdalam. Aku pernah merindumu dlm malam2ku. Aku pernah membawamu dlm mimpi2 indahku. Aku pernah sangat-sangat menginginkanmu.
Re : 10:23:14 AM Friday, 11 April, 2008
*Kenapa?*
10:35:47 : kenapa?
10:35:48 : kenapa?
10:35:49 : kenapa?
10:35:50 : kenapa?
10:35:51 : kenapa?
10:35:52 : kenapa?
10:36:00 : kenapa "kenapa"?
itulah tanya yang menghidupkanmu,
yang, yah. masih menyakitiku.
dan inilah jeda,
yang jelmakan doa-doa.
jangan berkawan, sayang.
udara letih dalam 1 tahunan meratapi tanya.
Menebar lebih banyak sepi, menduka...
Kau mau mengadu mereka?
Tapi tak ada tawa layak kita terima...
tag : kehidupan cinta mayaNya
sent : 23 June 2009
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
..........................................
hingga tak ada lagi rekaan yang merupa...
Lu bilang satu shaft?
Ah, Lu bercabang lagi
R, S, T,
Satu fasa, dua fasa, tiga fasa
Merah, biru, hitam,
Semua yang dicampuradukkan dalam sketsa yang Lu bilang monokrom
Lu bilang satu massa?
Ah, Lu terpecah lagi
Timur, barat, utara, selatan
Pikiran Lu tak pernah radial
Mengambil semua potensi yang didapat dari kontur tempat Lu berpijak
Kalau Lu ingin membangun pencakar langit bersama gw di sini
Kenapa Lu buat struktur yang getas?
Dan sebatas pondasi telapak beton yang mencengkeram bumi?
Lu pasti sedang bercanda, kan?
Karena gw pasti akan menyoraki L yang roboh dan remuk berkeping-keping dari sini
Aku membunuhnya...!
Aku menikamnya...!
Aku menggantungnya...!
sakit lagi...nyeri lagi...sengsara lagi...
Apakah aku bernafas lega?
Apakah yang terhimpit di dada?
lalu apa ini yang memekik di minda?
menulikan jiwa dengan jeritan nestapa?
April 13th, 2008
Namun inilah sebuah nyata yang membuatku terpana
Menukik ke sukma, menderai realita
Menghancurkan asa, menaburkan derita
Berawal dari cinta yang menduka
Berakhir tak pernah berujung sua
Ah..., semuanya hanyalah mimpi di atas realita
Maka lenyaplah kau, fana!
Hilanglah di balik kutukan nestapa!